Jawa Pos, 13 Desember 2007JOGJA - Peneliti pengidap HIV/AIDS dari Universitas Gottingen Jerman Thomas Stodulka meminta orang dengan HIV/AIDS (ODHA) jangan malu bergaul di tengah masyarakat. Sebab, perasaan malu justru akan semakin memperburuk kondisi kesehatan pengidap. "Memang tidak ada hubungannya langsung. Tapi jika tidak mau bersosialisasi, maka berpengaruh pada kondisi psikologis," ujar Thomas saat berdiskusi di ruang Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada (UGM) kemarin. Diskusi mengambil tema The Anthropology of AIDS "A matter of Life and Death". Thomas mengungkapkan, dari penelitian yang dilakukannya di DIJ, rata-rata para pengidap AIDS tidak mau bersosialiasi dengan masyarakat. Ini dikarenakan munculnya stigma mengidap HIV sama dengan divonis mati. "Dari penelitian, para pengidap tidak terlepas dari rasa malu," urainya. Ia juga menyebut saat ini di Jogjakarya sedikirnya 383 orang terjangkit virus HIV. Namun tidak semuanya bisa terdeteksi. "Pengidap banyak yang tidak mau mengakui. Mereka memilih tidak mau periksa. Padahal, kalau tidak dilakukan pengobatan akan semakin parah efeknya," tuturnya. Thomas mengatakan, sudah sekitar dua tahun melakukan penelitian soal HIV/AIDS di DIJ. Hanya fokus penelitiannya pada sisi antropologi emosi. "Saya pikir ini memang ada jawabannya, karena emosi berhubungan dengan lingkungan biologis, sosial dan budaya," ujarnya. Ani Himawati, peneliti dari Universitas Leiden, Belanda memaparkan lambannya penanganan virus ini tidak terlepas dari adanya kekhawatiran pada penangan kasus ini. Sebab, sebagian masyarakat masih mengangap persoalan ini tabu dan privat. "AIDS ini sudah menjadi kasus dunia. Bukan lagi bersifat eksklusif. Jadi tidak perlu malu dan mengakui secara terbuka," tandasnya. (sam) Sumber:http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_radar&id=185052&c=85
[ Home Indeks Kliping ]Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Communityhttp://www.aids-ina.orgURL berita ini adalah:http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=571
Selasa, 19 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar